JAKARTA — Sebuah cerita menarik mengenai Timnas Indonesia U-23 dan Como 1907 kembali terungkap. Pelatih Como 1907, Cesc Fabregas, ternyata pernah memantau langsung pertandingan Timnas Indonesia U-23 di Qatar.
Informasi tersebut diungkapkan legenda Timnas Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, yang pernah menjadi bagian dari lingkungan kepelatihan Como 1907.
Menurut Kurniawan, Fabregas hadir untuk melihat potensi pemain Indonesia ketika skuad Garuda Muda menghadapi Irak dalam pertandingan perebutan tempat ketiga Piala Asia U-23 2024.
Pertandingan tersebut berlangsung di Qatar pada 2 Mei 2024.
Fabregas Pantau Langsung
Kurniawan mengungkapkan bahwa kehadiran Fabregas saat pertandingan tersebut berkaitan dengan upaya Como 1907 mencari pemain potensial dari kawasan Asia.
Fabregas yang saat itu terlibat dalam proyek Como disebut ingin melihat langsung kemampuan pemain Indonesia di lapangan.
Namun, pemantauan tersebut tidak berujung pada perekrutan pemain dari skuad Garuda Muda.
Menurut Kurniawan, tidak ada pemain Indonesia yang akhirnya dianggap sesuai dengan filosofi permainan Fabregas.
Artinya, bukan berarti pemain Indonesia menjalani proses seleksi resmi dan kemudian semuanya dinyatakan gagal. Informasi yang disampaikan lebih mengarah pada proses scouting atau pemantauan pemain.
Justru Pemain Irak yang Direkrut
Dalam pertandingan tersebut, Irak akhirnya memenangkan pertandingan dengan skor 2-1 setelah melalui babak tambahan waktu.
Menariknya, salah satu pemain Irak yang tampil dalam pertandingan tersebut kemudian menjadi pemain yang direkrut Como 1907.
Pemain tersebut adalah Ali Jasim.
Menurut Kurniawan, Como akhirnya memilih pemain asal Irak tersebut setelah melakukan pemantauan terhadap pertandingan di Qatar.
Kisah tersebut menjadi menarik karena pertandingan yang sama ternyata menjadi salah satu kesempatan bagi klub Italia tersebut untuk mengamati talenta dari kawasan Asia.
Bukan Berarti Pemain Indonesia Tidak Berkualitas
Tidak terpilihnya pemain Indonesia oleh Como juga tidak bisa langsung diartikan bahwa pemain Garuda Muda tidak memiliki kualitas.
Dalam sepak bola profesional, kebutuhan sebuah klub sangat bergantung pada filosofi pelatih, posisi yang dibutuhkan, karakter pemain, usia, kemampuan teknis, hingga rencana jangka panjang klub.
Kurniawan sendiri menyebut tidak ada pemain Indonesia yang ketika itu dianggap sesuai dengan filosofi Fabregas.
Karena itu, cerita tersebut lebih tepat dilihat sebagai gambaran bagaimana proses pencarian pemain dilakukan klub Eropa.
Peluang Pemain Indonesia ke Eropa
Pemantauan Fabregas terhadap Timnas Indonesia U-23 juga menunjukkan bahwa pemain Indonesia bukan berarti tidak diperhatikan oleh klub luar negeri.
Tantangannya adalah bagaimana pemain muda Indonesia dapat tampil konsisten dan memenuhi kebutuhan klub yang melakukan scouting.
Bagi pemain muda, masuk radar klub Eropa merupakan langkah awal. Setelah itu masih diperlukan performa, kemampuan teknis, adaptasi, dan kecocokan dengan kebutuhan tim.
Cerita Como dan Ali Jasim sekaligus memperlihatkan bahwa satu pertandingan internasional bisa menjadi kesempatan bagi pemain Asia untuk menarik perhatian klub Eropa.





